Bursa Korea Selatan anjlok tajam hingga -12% dalam sehari!
![]() |
| Bursa saham Korea Selatan ambruk gara-gara konflik Iran |
Indeks saham utama Korea Selatan, KOSPI, anjlok lebih dari 12% pada perdagangan Rabu (4/3/2025), menandai aksi jual terburuk dalam sejarahnya. Penurunan tajam ini menciptakan suasana mencekam di kawasan teknologi Pangyo, yang dikenal sebagai Silicon Valley-nya Korea Selatan, di mana aktivitas biasanya ramai justru berubah sunyi.
Alih-alih makan siang seperti biasa, para pekerja terlihat fokus pada layar ponsel mereka, memantau portofolio investasi di tengah anjloknya indeks saham yang sebelumnya sempat melonjak hingga dua kali lipat dalam setahun terakhir.
Menurut Reuter, seorang pekerja di kawasan Pangyo, Seongnam, bernama Jessica Chung menggambarkan bahwa rekan-rekannya terkejut ketika penurunan indeks berlanjut hingga lebih dari 8% di pagi hari.
Ia juga menceritakan bahwa suasana panik terasa jelas, bahkan banyak orang mencari tempat sepi untuk melakukan transaksi saham.
Gejolak ini dipicu oleh meningkatnya konflik di Iran. Situasi keamanan di Timur Tengah yang memburuk mendorong lonjakan harga minyak, sehingga memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan sektor kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya mengangkat pasar saham Korea Selatan.
Ketergantungan tinggi negara tersebut terhadap impor energi memperparah sentimen negatif.
Saham perusahaan teknologi besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar, masing-masing merosot sekitar 20% dalam sepekan perdagangan.
Secara keseluruhan, indeks KOSPI telah turun 18,4% dalam dua hari terakhir, menghapus nilai pasar sekitar 817,6 triliun won, setara dengan kurang lebih Rp6.600 triliun.
Dari total 925 saham yang diperdagangkan, hanya 14 yang mencatatkan kenaikan, sementara sisanya merosot. Penurunan tajam ini juga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt (circuit breaker) untuk pertama kalinya sejak Agustus 2024 di Korea Selatan.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga pada mata uang. Won Korea sempat melemah melewati level psikologis 1.500 per dolar AS, yang merupakan posisi terlemah dalam 17 tahun terakhir.
Aksi jual besar ini terutama didorong oleh arus keluar dana asing, khususnya dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang sebelumnya menjadi favorit investor global. Posisi investor yang terlalu padat di pasar Korea membuat tekanan jual semakin besar saat sentimen berubah.
Korea Selatan, sebagai importir minyak terbesar keempat di dunia, sangat rentan terhadap gangguan pasokan energi. Sekitar 70% kebutuhan minyak negara tersebut berasal dari Timur Tengah, sehingga eskalasi konflik di kawasan tersebut berdampak signifikan.
Di tengah tekanan pasar, terdapat beberapa saham yang justru menguat. Perusahaan energi Daesung Energy melonjak hingga batas atas harian 30% setelah Iran mengumumkan blokade Selat Hormuz.
Namun, tidak semua sektor bergerak sesuai ekspektasi. Saham perusahaan pertahanan Hanwha Aerospace justru turun sekitar 8%, setelah sebelumnya sempat melonjak 20%, yang mengejutkan investor di tengah kondisi pasar yang sangat fluktuatif.

Gabung dalam percakapan