Diplomasi Timur Tengah dengan Iran macet, harga minyak makin terbang

Bendera Iran.

Upaya diplomatik untuk meredakan krisis energi di Timur Tengah mengalami kemunduran pada Senin (14/9), setelah pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk ditunda tanpa kepastian jadwal baru. 

Penundaan ini terjadi bersamaan dengan rangkaian serangan baru di dua jalur transit minyak terpenting dunia, yang membuat pasar global semakin cemas terhadap pasokan energi.

Harga minyak melonjak begitu perdagangan dibuka pada awal pekan, menyusul berbagai perkembangan yang mengancam pasokan dari Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia. Sepanjang akhir pekan, Riyadh terpaksa menutup jalur pipa timur-barat sepanjang 1.200 kilometer setelah fasilitas itu rusak akibat serangan drone pada Jumat lalu.

Pertemuan Iran-Teluk ditunda mendadak

Harapan akan terobosan diplomatik dalam waktu dekat pupus setelah Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, mengumumkan lewat unggahan pada Minggu malam bahwa pertemuan regional yang semula dijadwalkan Senin ditunda "demi kepentingan konsensus." 

Sebelumnya, para pejabat Iran menyatakan akan menghadiri pertemuan tersebut bersama negara-negara Arab Teluk untuk memaparkan kesepakatan dengan Oman mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kantor berita Fars, mengutip seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran, melaporkan bahwa penundaan tersebut diminta oleh sejumlah negara di kawasan konflik. Iran disebut akan berkoordinasi dengan Oman untuk menentukan jadwal baru yang sesuai.

Penundaan ini semakin menekan ekonomi global setelah Arab Saudi memutuskan untuk menutup jalur pipa darat utama pengiriman minyak Timur Tengah yang tidak melalui Selat Hormuz.

Ancaman baru di Selat Hormuz

Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan bagi pelayaran minyak dunia.

Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan pada Minggu bahwa sebuah kapal terkena proyektil saat melintasi selat tersebut. Akibatnya, kapal terbakar dan memaksa awaknya dievakuasi.

Di sisi lain, Iran menyatakan satu orang tewas dan empat awak kapal terluka setelah sebuah kapal niaga Iran diserang di lepas pantainya.

Harga solar AS cetak rekor baru

Dampak dari rangkaian gangguan ini langsung terasa di pasar energi global. Harga minyak telah menembus level $100 per barel pekan lalu, untuk pertama kalinya sejak Juli.

Sementara itu, harga eceran solar di Amerika Serikat—yang secara politik sangat sensitif—naik pada Minggu ke rekor tertinggi baru di atas $6,20 per galon.

Menurut para pedagang dan pembeli minyak Saudi yang berbicara kepada Reuters, Riyadh hanya memiliki cadangan minyak yang cukup di pelabuhan Yanbu, di pesisir Laut Merah, untuk mempertahankan ekspor selama lima hingga tujuh hari jika pipa yang rusak sejak Jumat itu belum juga beroperasi.

Jika kondisi ini berlanjut, hingga 4 persen dari total pasokan minyak dunia berpotensi terganggu, di luar jutaan barel per hari yang sudah hilang akibat gangguan lalu lintas di Selat Hormuz.

Arab Saudi belum memberikan rincian lengkap mengenai tingkat kerusakan pipa maupun perkiraan waktu perbaikan. Sumber-sumber memberitakan estimasi yang beragam, mulai dari beberapa hari hingga lima sampai enam minggu. Citra satelit menunjukkan kepulan asap tebal dari sejumlah titik di sepanjang jalur pipa tersebut.

Selama enam bulan terakhir, jalur pipa yang membentang melintasi gurun Semenanjung Arab ini telah membantu Arab Saudi menghindari dampak terberat dari terhambatnya ekspor lewat Selat Hormuz akibat perang.

Lewat jalur pipa darat ini, Arab Saudi mampu mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari—setara dengan sekitar 4 persen dari pasokan global—menuju Yanbu.

Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pasokan minyak Arab Saudi telah anjlok ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade pada Agustus, akibat berkurangnya pasokan lewat Hormuz maupun Laut Merah.

Produksi minyak Arab Saudi dilaporkan turun menjadi hanya 6,2 juta barel per hari pada Agustus, dari 10,9 juta barel per hari pada Februari sebelum perang pecah. 

IEA memperkirakan pasokan minyak dunia akan menyusut 5,7 juta barel per hari, atau sekitar 6 persen, sepanjang tahun ini.

Serangan Houthi memperumit situasi

Di Provinsi Jazan, Arab Saudi, media setempat merilis rekaman kerusakan rumah-rumah warga dan sebuah masjid akibat serangan lintas batas terbaru yang diklaim dilakukan oleh kelompok pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran. 

Kelompok Houthi juga mengklaim telah menyerang sebuah pangkalan militer Saudi, tak lama setelah mereka menguasai Pulau Perim di Bab el-Mandeb—selat yang dijuluki "Gerbang Air Mata" karena mengontrol mulut Laut Merah.

Kemajuan Houthi di sepanjang pesisir Laut Merah ini menjadi bagian dari eskalasi konflik terbesar di Yaman dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan milisi Houthi terhadap Arab Saudi menempatkan Washington pada posisi sulit: mendukung sekutu Saudi dan melindungi jalur pelayaran, namun tetap enggan terseret ke front perang baru.

Bagi negara-negara Teluk, situasi ini juga memunculkan pilihan berat antara menanggung kerugian ekonomi yang terus membesar atau membuka jalur komunikasi dengan Iran.

Tiga sumber Reuters mengungkapkan bahwa pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammad bin Salman, menghubungi Presiden AS Donald Trump pada Kamis minggu lalu untuk meminta bantuan militer melawan Houthi. 

Namun, untuk saat ini Washington hanya memberi dukungan intelijen. Trump membenarkan telah berbicara dengan sang putra mahkota, dan menyebut pihak Houthi juga telah menghubungi pemerintahannya, meminta Washington tidak ikut campur dalam perang di Yaman.

Trump: harga bensin akan "jatuh seperti batu"

Eskalasi kekerasan ini muncul setelah perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel enam bulan lalu sempat mereda pada Agustus.

Dalam wawancara dengan media pan-Arab Al-Arabi Al-Jadeed yang berbasis di London, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan bahwa terlepas dari kesepakatan dengan Oman, Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran.

Amerika Serikat sejauh ini belum mencapai tujuan yang dicanangkan Trump saat meluncurkan "Operation Epic Fury" pada Februari lalu, yakni menghentikan program nuklir Iran, mencegah Iran menyerang negara tetangganya, dan menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk menggulingkan para pemimpinnya.

Dalam kunjungan akhir pekan ke Irlandia untuk menghadiri turnamen golf Irish Open, Trump kembali menegaskan keyakinannya bahwa perang dengan Iran akan berakhir tahun ini, kemungkinan tak lama setelah pemilu paruh waktu AS pada November—dan setelah itu, menurutnya, harga bensin akan "jatuh seperti batu."

Sementara itu, gangguan pasokan yang berkelanjutan ini telah mendorong inflasi global dan mengerek imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi sejak krisis keuangan 2008.

Kurs yang digunakan: 1 dolar AS ≈ Rp17.600, berdasarkan data pasar spot per 14 September 2026.

Professional content writer, copywriter, and owner of TokoKata. Passionate blogger and SEO enthusiast. Practicing my bachelor's degree in accounting at the Indonesian Stock Exchange.