Kuwait deklarasikan force majeure, pangkas produksi minyak di tengah krisis Iran
![]() |
| Ilustrasi instalasi penyulingan minyak mentah. Unsplash. |
Perusahaan minyak negara Kuwait Petroleum Corporation (KPC) menyatakan kondisi force majeure dan mulai memangkas produksi minyak mentah pada Sabtu (7/3/2026) di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Langkah ini menambah daftar negara produsen energi yang telah lebih dulu menurunkan produksi minyak dan gas, termasuk Irak dan Qatar, setelah perang antara Amerika bersama Israel dan Iran menghambat pengiriman energi dari kawasan tersebut selama delapan hari berturut-turut.
Menurut Reuters, KPC menyatakan bahwa keputusan force majeure atau kahar diambil setelah perusahaan mengurangi produksi minyak mentah dan menurunkan kapasitas pengolahan kilang akibat konflik regional. Namun, perusahaan tidak merinci besaran penurunan produksi tersebut.
Sebagai gambaran, pada Februari lalu Kuwait memproduksi sekitar 2,6 juta barel minyak mentah per hari.
KPC menyebut pengurangan produksi ini bersifat langkah pencegahan dan akan terus ditinjau seiring perkembangan situasi. Perusahaan juga menyatakan siap memulihkan tingkat produksi ketika kondisi memungkinkan.
Dalam pemberitahuan tersebut, KPC menjelaskan bahwa keputusan force majeure dipicu oleh ancaman eksplisit dari Iran terhadap keamanan pelayaran melalui Strait of Hormuz, serangan berkelanjutan terhadap Kuwait, serta hampir tidak tersedianya kapal di kawasan Teluk Arab untuk mengangkut minyak mentah dan produk energi.
Selat Hormuz merupakan jalur distribusi energi paling vital di dunia yang menangani sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global.
KPC sendiri merupakan eksportir utama nafta ke Asia serta pemasok bahan bakar jet dalam jumlah besar ke Eropa Barat Laut. Nafta merupakan bahan baku penting bagi industri petrokimia.
Konflik yang melibatkan Iran dan serangan oleh Israel serta Amerika telah meluas melampaui wilayah Iran. Teheran balik menyerang Israel serta negara-negara Teluk Arab yang menampung instalasi militer AS. Sementara itu, Israel juga melancarkan serangan baru di Lebanon setelah milisi yang bersekutu dengan Iran, Hezbollah, meluncurkan serangan lintas perbatasan.

Gabung dalam percakapan