Saudi Aramco kembali muat minyak dari Ras Tanura, Irak desak OPEC naikkan kuota

Fasilitas pengolahan minyak di Ras Tanura. 

Perusahaan energi milik Arab Saudi, Saudi Aramco, kembali memuat minyak mentah dari terminal Ras Tanura di Teluk Persia pada Jumat (26/05/2026) setelah hampir empat bulan menghentikan aktivitas ekspor dari pelabuhan tersebut.

Data pelacakan kapal dari LSEG menunjukkan dua kapal tanker jenis Very Large Crude Carrier (VLCC) tengah memuat minyak di terminal Ras Tanura, sementara satu kapal lainnya menunggu di sekitar pelabuhan. Setiap VLCC mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak.

Aramco terakhir kali mengirim kargo dari Ras Tanura menuju China pada 8 Maret. Setelah itu, perusahaan mengalihkan seluruh ekspor minyaknya ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah akibat blokade Iran di Selat Hormuz selama konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, yang menghalangi kapal-kapal memasuki Teluk Persia.

Kembalinya aktivitas ekspor melalui Ras Tanura terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik, yang mendorong produsen minyak di Timur Tengah untuk meningkatkan kembali produksi dan ekspor.

Sementara itu, Irak mempertimbangkan untuk keluar dari Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) apabila kelompok produsen minyak tersebut tidak mengizinkan Baghdad meningkatkan produksi minyak secara signifikan, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

Potensi keluarnya Irak akan menjadi pukulan besar bagi OPEC. Irak merupakan produsen minyak terbesar kedua di dalam organisasi tersebut setelah Arab Saudi sekaligus salah satu dari lima negara pendiri OPEC yang dibentuk di Baghdad pada 1960.

Perekonomian Irak sangat bergantung pada pendapatan minyak, yang turun tajam setelah konflik Iran menyebabkan ekspor melalui Selat Hormuz terganggu. Pemerintah Irak kini menghadapi krisis keuangan dan menilai peningkatan kuota produksi di OPEC harus menjadi perhatian serius.

Seorang pejabat senior Kementerian Perminyakan Irak mengatakan pemerintah saat ini masih berencana tetap menjadi anggota OPEC, namun akan terus memperjuangkan kuota produksi yang lebih tinggi.

Menurutnya, apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Irak akan mempertimbangkan seluruh opsi yang tersedia, meski menyebut pembahasan mengenai keluar dari OPEC masih terlalu dini.

Kementerian Perminyakan Irak juga menegaskan bahwa laporan mengenai rencana keluar dari OPEC bukan merupakan posisi resmi pemerintah.

Kuota produksi Irak untuk Juli ditetapkan sebesar 4,378 juta barel per hari. Namun, produksi aktual saat ini jauh lebih rendah akibat gangguan ekspor melalui Selat Hormuz.

OPEC+ yang terdiri dari anggota OPEC bersama Rusia dan negara produsen lainnya saat ini tengah meninjau kapasitas produksi seluruh anggotanya. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penetapan kuota produksi mulai 2027.

Menurut data OPEC, produksi minyak Irak turun menjadi sekitar 1,48 juta barel per hari pada Mei, dibandingkan dengan hampir 4,2 juta barel per hari pada Februari sebelum penutupan Selat Hormuz.

Juru bicara pemerintah Irak, Haider al Aboudi, mengatakan negaranya sedang berupaya memulihkan kapasitas ekspor minyak sepenuhnya dan menargetkan peningkatan produksi hingga 7 juta barel per hari dalam beberapa tahun mendatang.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi menyatakan pemerintah menginginkan OPEC menaikkan kuota produksi Irak agar sejalan dengan kapasitas produksi dan jumlah penduduk negara tersebut.

Harga minyak dunia sempat memperpanjang pelemahan setelah laporan Reuters mengenai kemungkinan keluarnya Irak dari OPEC muncul, dengan harga diperdagangkan di bawah US$73 per barel.

Professional content writer, copywriter, and owner of TokoKata. Passionate blogger and SEO enthusiast. Practicing my bachelor's degree in accounting at the Indonesian Stock Exchange.