Iran janji balas sanksi ekonomi AS, ketegangan kembali meningkat

Iran berjanji akan membalas langkah Amerika Serikat yang memperluas sanksi ekonomi terhadap negara tersebut. Teheran menyatakan yakin sejumlah mitra dagangnya akan menolak tekanan Washington.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan langkah baru tersebut pada Senin waktu setempat (24/6/2026). Namun, pemerintah AS belum langsung menerapkan sanksi paling berat yang dapat memutus akses pihak-pihak yang masih berdagang dengan Iran dari sistem keuangan berbasis dolar AS.

Bessent tidak menyebut negara mana yang akan menjadi sasaran maupun kapan sanksi tersebut mulai berlaku. Ia mengatakan pemerintah AS akan memberikan waktu bagi negara dan perusahaan terkait untuk mematuhi kebijakan baru.

Departemen Keuangan AS juga mengumumkan sanksi terhadap 60 individu, entitas, dan kapal. Namun, daftar tersebut tidak mencakup sejumlah lembaga keuangan China yang sebelumnya diduga membantu perdagangan minyak Iran.

Sebelum pengumuman tersebut, Iran telah memperingatkan kemungkinan respons militer dan pengurangan lebih lanjut ekspor minyak dari kawasan Teluk jika AS menerapkan langkah ekonomi baru.

Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintahnya sepenuhnya siap menghadapi sanksi AS. Ia menilai Washington sedang berusaha melancarkan tekanan ekonomi terhadap Iran, tetapi ia menegaskan bahwa Teheran memiliki instrumen untuk merespons.

Madanizadeh juga mengatakan China dan Rusia tidak menerima langkah AS tersebut. Ia memperkirakan negara-negara lain akan menolak tekanan Washington.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, turut memperingatkan bahwa Iran dapat menyerang kepentingan vital AS dan titik-titik strategis energi jika infrastruktur Iran terancam.

Pemerintahan Presiden Donald Trump tampaknya mengandalkan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran mengakhiri konflik, meskipun negara tersebut telah menghadapi berbagai lapisan sanksi AS dan internasional selama puluhan tahun.

Sanksi-sanksi sebelumnya telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Iran, tetapi belum berhasil mengubah sikap kepemimpinan negara tersebut secara signifikan.

Meskipun tidak ada serangan besar dari kedua pihak dalam beberapa pekan terakhir, konflik masih belum menunjukkan tanda-tanda menuju penyelesaian diplomatik.

AS juga tengah mencari cara untuk menghentikan serangan Iran terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk serta serangan terhadap pelayaran di Laut Merah yang dilakukan melalui sekutunya.

Konflik tersebut telah berlangsung hampir enam bulan sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Perang telah melemahkan sebagian besar kemampuan militer konvensional Iran dan menimbulkan tekanan ekonomi yang besar.

Iran masih memiliki kemampuan rudal dan drone yang cukup untuk menyerang negara-negara Teluk dan mengancam kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, kondisi sebenarnya dari program nuklir Iran masih belum diketahui secara pasti. Program tersebut menjadi salah satu sasaran utama AS dan Israel.

Ribuan orang telah tewas sejak perang berlangsung, sebagian besar di Iran dan Lebanon.

China menjadi salah satu fokus utama kebijakan baru Washington karena merupakan pembeli terbesar minyak Iran selama beberapa tahun terakhir.

Bessent sebelumnya telah meminta Beijing bekerja sama dalam menekan perdagangan minyak Iran. Namun, blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang kembali diberlakukan sejak pertengahan Juli telah menyebabkan aliran minyak Iran ke China menurun.

Para analis menilai Washington berhati-hati untuk tidak langsung menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank China karena khawatir Beijing akan melakukan tindakan balasan.

Risiko tersebut menjadi semakin sensitif menjelang rencana pembicaraan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping pada bulan depan. Salah satu isu yang berpotensi menjadi sumber konflik adalah ekspor mineral penting dari China.

Ketika ditanya mengenai bank-bank China, Bessent menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berada di luar jangkauan sanksi AS.

Kementerian Luar Negeri China mengatakan tekanan dan sanksi tidak membantu menyelesaikan masalah. Beijing juga menegaskan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir mengunjungi Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Teheran pada Senin dalam upaya mendorong perdamaian.

Kunjungan tersebut dilakukan setelah Munir berbicara dengan Trump pada pekan sebelumnya. Menurut sumber Pakistan, Trump yang terlebih dahulu menghubungi Munir.

Pezeshkian menyampaikan bahwa AS perlu mengubah pendekatan dalam berhubungan dengan Iran. Menurutnya, penggunaan tekanan dan ancaman hanya akan memperumit proses penyelesaian konflik.

Pakistan sebelumnya telah berusaha menjadi mediator antara AS dan Iran. Upaya tersebut menghasilkan kesepakatan perdamaian sementara pada Juni, tetapi kesepakatan yang dikenal sebagai Islamabad Memorandum tersebut kemudian tidak bertahan lama.

Sementara itu, pasar minyak justru merespons dengan penurunan harga. Harga minyak turun lebih dari US$2 per barel pada Senin meskipun investor tetap bersiap menghadapi kemungkinan gangguan pasokan energi lebih lanjut dari Timur Tengah.

Sumber:

Professional content writer, copywriter, and owner of TokoKata. Passionate blogger and SEO enthusiast. Practicing my bachelor's degree in accounting at the Indonesian Stock Exchange.