Pasar obligasi global tertekan hebat, yield Jepang tembus 3%

Aksi jual di pasar obligasi global semakin dalam pada Selasa (1/9/2026). Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya sejak 1996.

Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap inflasi yang didorong oleh energi, potensi pengetatan kebijakan moneter, serta memburuknya kondisi fiskal berbagai negara.

Yield obligasi 10 tahun Jepang pada Selasa (1/9/2026) menembus 3%

Tekanan jual melanda sejumlah negara maju, mulai dari Amerika Serikat hingga Jerman dan Inggris. Yield obligasi pemerintah Inggris melonjak 10 basis poin setelah pasar kembali dibuka pascalibur nasional pada Senin kemarin.

Yield Inggris dan zona Uni Eropa juga mencapai level tertinggi dalam lebih dari 10 tahun. Krisis di Timur Tengah meningkatkan tekanan harga energi dan inflasi global. Pasar semakin memperkirakan bank-bank sentral akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Gelombang penerbitan obligasi oleh perusahaan teknologi besar untuk membiayai ekspansi kecerdasan buatan (AI) turut memperburuk tekanan di pasar.

Pada saat yang sama, beban utang pemerintah AS telah melewati Rp648.000 triliun atau US$40 triliun.

Ketika harga obligasi turun, yield akan meningkat. Kondisi tersebut membuat kenaikan yield menjadi perhatian khusus bagi pemerintah karena berarti biaya pembiayaan utang ikut meningkat.

Pemerintah AS bahkan telah turun tangan ke pasar pada bulan lalu untuk meredam kenaikan biaya pinjaman. Namun, yield Treasury AS bertenor 30 tahun kembali meningkat.

Kenaikan yield obligasi pemerintah Jepang 10 tahun hingga 3% menjadi salah satu indikator paling jelas mengenai perubahan besar di pasar obligasi global.

Selama lebih dari satu dekade, pembelian obligasi secara besar-besaran oleh bank sentral Jepang membuat suku bunga negara tersebut tetap sangat rendah.

Kenaikan yield hingga 3% yang sebelumnya dianggap hampir tidak mungkin kini menjadi kenyataan.

Tai Hui, kepala strategi pasar Asia-Pasifik di J.P. Morgan Asset Management, menilai kenaikan yield di AS dan Jepang mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi fiskal.

Kebuntuan konflik di Timur Tengah berpotensi mendorong harga energi semakin tinggi, sementara langkah untuk mengurangi defisit fiskal di AS dan Jepang dinilai masih terbatas.

Harga minyak mentah Brent naik hampir 2% hingga menembus US$92 per barel, atau sekitar Rp1,49 juta per barel dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS.

Harga gas alam Eropa juga mencapai level tertinggi sejak Maret setelah AS dan Iran kembali terlibat dalam pertukaran serangan langsung pada Senin.

Kenaikan biaya pinjaman tidak hanya terjadi di Jepang.

Yield Treasury AS 10 tahun naik ke 4,798%, level tertinggi sejak Januari 2025. Yield Treasury AS 30 tahun mencapai 5,27%, hanya sekitar 6 basis poin di bawah level sebelum intervensi pemerintah pada Agustus.

Di Jerman, yield obligasi pemerintah 10 tahun mencapai 3,35%, tertinggi sejak 2011. Data juga menunjukkan inflasi zona Uni Eropa meningkat di atas 3% pada Agustus, memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga pada September.

Sementara itu, yield obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun naik menjadi 5,25%, level tertinggi sejak 2008.

Analis mengatakan kenaikan biaya pinjaman global tidak sepenuhnya disebabkan oleh faktor yang sama.

Frances Cheung, kepala strategi valuta asing dan suku bunga OCBC, menilai ekspektasi inflasi yang meningkat menjadi pendorong utama di Eropa dan Inggris. Di AS, kenaikan yield jangka panjang lebih banyak dipengaruhi oleh peningkatan real yield, meskipun ekspektasi inflasi juga mulai meningkat.

Real yield merupakan imbal hasil yang diminta investor setelah memperhitungkan inflasi. Angka ini menjadi salah satu indikator biaya pinjaman riil bagi pemerintah dan perusahaan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menepis kekhawatiran mengenai kondisi pasar obligasi. Ia menilai dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi akan berkurang dan kenaikan yield juga mencerminkan kepercayaan terhadap perekonomian AS.

Kenaikan yield di satu negara juga dapat memberikan tekanan kepada pasar obligasi negara lain.

Yield obligasi pemerintah Australia bertenor 10 tahun mencatat kenaikan harian terbesar dalam lima bulan pada Selasa. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran bahwa kenaikan yield obligasi Jepang akan membuat investor Jepang mengurangi pembelian obligasi Australia.

Kenaikan yield Jepang berpotensi mendorong investor Jepang secara bertahap mengalihkan dana mereka kembali ke aset domestik karena imbal hasil di dalam negeri menjadi lebih menarik.

Prashant Newnaha, ahli strategi suku bunga senior di TD Securities, menilai perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran rezim di pasar obligasi global.

Selama bertahun-tahun, obligasi pemerintah Jepang menjadi salah satu jangkar utama pasar fixed income global karena yield-nya sangat rendah. Kini, kondisi tersebut mulai berubah karena yield Jepang meningkat secara signifikan.

Dengan kata lain, kenaikan yield Jepang bukan sekadar peristiwa domestik. Jika investor Jepang mulai memulangkan modalnya, tekanan dapat menyebar ke pasar obligasi negara lain dan meningkatkan biaya pinjaman global.

Professional content writer, copywriter, and owner of TokoKata. Passionate blogger and SEO enthusiast. Practicing my bachelor's degree in accounting at the Indonesian Stock Exchange.