Rupiah menguat ke bawah Rp17.700 per Dolar AS, inflasi naik pada Agustus
![]() |
| Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dalam satu bulan. |
Nilai tukar rupiah menguat ke bawah level Rp17.700 per dolar AS pada Kamis (3/9/2026), mencatat penguatan untuk sesi kedua berturut-turut seiring indeks dolar AS melanjutkan pelemahannya.
Dolar AS berada di bawah tekanan setelah yen Jepang menguat tajam di tengah spekulasi bahwa pemerintah Jepang dapat melakukan intervensi untuk menopang mata uangnya menyusul pemeriksaan suku bunga (rate check).
Dari dalam negeri, penguatan rupiah mendapat dukungan setelah Destry Damayanti resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Rabu. Destry menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Gubernur BI secara permanen.
Dalam pidato setelah pelantikan, Destry menyatakan BI akan menerapkan kebijakan yang responsif dengan tetap menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan.
Destry juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 menjadi 5,2%-6%. Jika mencapai batas atas proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menjadi yang terkuat sejak 2012.
Surplus Perdagangan Beri Dukungan
Sentimen terhadap rupiah juga mendapat dorongan dari kinerja perdagangan Indonesia.
Indonesia secara tak terduga mencatat surplus perdagangan sebesar US$130 juta atau sekitar Rp2,1 triliun pada Juli 2026. Hasil tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan defisit sekitar US$300 juta atau Rp4,86 triliun.
Surplus tersebut menjadi yang pertama dalam tiga bulan dan terutama didukung pertumbuhan ekspor yang lebih kuat dari perkiraan.
Ekspor Indonesia tumbuh 6,05% secara tahunan pada Juli, melampaui perkiraan pertumbuhan 3,4%, meskipun melambat dibandingkan kenaikan 8,84% pada Juni.
Ekspor nonmigas meningkat 6,84% menjadi US$25,43 miliar atau sekitar Rp412 triliun. Pengiriman ke sejumlah pasar utama meningkat, termasuk Amerika Serikat sebesar 8,61%, China 17,52%, Jepang 7,93%, dan negara-negara ASEAN 16,72%.
Sebaliknya, ekspor minyak dan gas anjlok 14,58%, terutama akibat penurunan ekspor minyak mentah hingga 100% dan gas alam sebesar 11,97%.
Pada saat yang sama, impor melonjak 27,02% secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan 24,1%, meskipun melambat dari pertumbuhan 34,27% pada Juni. Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya harga minyak.
Dalam tujuh bulan pertama 2026, Indonesia mencatat surplus perdagangan kumulatif sebesar US$3,70 miliar atau sekitar Rp59,9 triliun. Ekspor periode tersebut meningkat 4,43%, sedangkan impor tumbuh jauh lebih cepat sebesar 19,94%.
Inflasi Kembali Meningkat
Di sisi lain, tekanan inflasi Indonesia semakin meningkat. Inflasi tahunan pada Agustus 2026 mencapai 3,19%, naik tajam dari 2,28% pada Juli yang merupakan level terendah dalam tiga bulan.
Angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 3,13%.
Kenaikan inflasi terutama didorong oleh meningkatnya harga makanan, minuman, dan rokok. Biaya perawatan pribadi serta transportasi juga ikut meningkat.
Meski mengalami percepatan, inflasi masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%-3,5%.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen harga pangan bergejolak dan harga yang diatur pemerintah, meningkat menjadi 2,92%, level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan inflasi inti menjadi perhatian karena mencerminkan tekanan harga yang lebih mendasar dalam perekonomian.
Secara bulanan, indeks harga konsumen naik 0,21% pada Agustus, berbalik dari penurunan 0,14% pada Juli dan kurang lebih sejalan dengan perkiraan kenaikan 0,2%.

Gabung dalam percakapan